Pramoedya Ananta Toer Di Mata Yohanes Chandra Ekajaya

Pramoedya Ananta Toer Di Mata Yohanes Chandra Ekajaya

Siapa yang tidak tahu dengan Pramoedya Ananta Toer atau yang sering dipanggil Om Pram pada era nya dahulu. Ia merupakan seorang sastrawan besar yang ada di Indonesia. Pram merupakan seorang putra sulung dari kepala sekolah Institut Budi Oetomo. Pram dahulu pernah bekerja menjadi juru ketik dan seorang korektor di kantor berita Domei (LKBN ANTARA) semasa pendudukan Jepang.Ia banyak menghasilkan artikel, puisi, cerpen, dan novel hingga melambungkan namanya di tingkat dunia.

Pram mempunyai karya yang penuh dengan kritik sosial yang membuatnya sering keluar masuk bui. Pram dulu pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada masa orde lama. Kemudian selama orde baru ia ditahan selama 14 tahun sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan. Pada masa kemerdekaan Indonesia, ia mengikuti kelompok militer di Jawa dan seringkali ditempatkan di Jakarta di akhir perang kemerdekaan. Pram menulis cerpen dan buku sepanjang karier militernya dan dipenjara Belanda di Jakarta pada 1948 dan 1949. Pada 1950-an ia kemudian tinggal di Belanda sebagai bagian program pertukaran budaya, dan saat kembali ia menjadi anggota Lekra, organisasi sayap kiri di Indonesia.

Dok.Yohanes Chandra Ekajaya

Di mata seorang pemuda bernama Yohanes Chandra Ekajaya, Pram merupakan sosok yang sangat menginspirasinya, terutama masalah karya-karya sastranya. Beberapa karya Pram dilarang untuk dipublikasikan karena dianggap mengganggu keananan negara pada masa pemerintahan Presiden Soekarno maupun Soeharto. Misalnya pada tahun 1960-an, ia ditahan pemerintahan Soeharto karena pandangan pro-komunis Tiongkoknya. Bukunya yang berjudul Hoakiau di Indonesia dicabut dari peredaran, dan ia ditahan tanpa pengadilan di Nusakambangan di lepas pantai Jawa, dan akhirnya di pulau Buru di kawasan timur Indonesia. Meskipun demikian, Pram mendapatkan banyak penghargaan dari lembaga-lembaga di luar negeri. Potret kehidupan Pram yang dibenci di negeri sendiri tetapi dihargai dunia membuatnya tetap optimis dan tidak pernah berhenti berkarya.

Ketika Pramoedya Ananta Toer mendapatkan Ramon Magsaysay Award pada 1995, diberitakan sebanyak 26 tokoh sastra Indonesia menulis surat ‘protes’ ke yayasan Ramon Magsaysay. Beberapa dari tokoh-tokoh tersebut antara lain adalah Taufiq Ismail, Mochtar Lubis, dan HB Jassin. Tokoh-tokoh tersebut protes karena Pram dianggap tidak pantas untuk menerima penghargaan Ramon Magsaysay. Dalam berbagai opini-opini di media, para penandatangan petisi 26 ini merasa sebagai korban dari keadaan pra-1965. Mereka menuntut pertanggungjawaban Pram untuk mengakui dan meminta maaf akan segala peran ‘tidak terpuji’ pada ‘masa paling gelap bagi kreativitas’ pada zaman Demokrasi Terpimpin. Semenjak orde baru Pram memang tidak pernah mendapat kebebasan menyuarakan suaranya sendiri, dan telah beberapa kali dirinya diserang dan dikeroyok secara terbuka di koran.

Yohanes Chandra Ejaya sendiri sangat berharap ingin bisa meneruskan cita-cita dari Pramoedya Ananta Toer untuk lebih memperhatikan rakyat kecil. Banyak koleksi karya Pramoedya yang dimiliki oleh pemuda ini. Untuk lebih lengkapnya tentang profil Pramoedya bisa dilihat di tulisan milik Yohanes Chandra Ekajaya ini.