Yohanes Chandra Ekajaya Fokus Perceraian

Dok. Yohanes Chandra Ekajaya

Yohanes Chandra Ekajaya menjelaskan bahwa kasus perceraian di kabupaten Bangkalan sangat tinggi. Dalam satu bulan saja permohonan perceraian di pengadilan agama (PA) rata-rata lebih dari seratus. Dalam satu tahun, angka perceraian bahkan mencapai ribuan.

Yohanes Chandra Ekajaya pria kelahiran Malang, Jawa Timur ini mencatat bahwa ada 1.312 kasus cerai telah diputus PA Bangkalan selama 2016. Dengan rincian, 570 kasus cerai talak dan 742 gugat cerai. Rata-rata dalam sehari ada 15 kasus. Dengan maksud dan kata lain, setiap hari ada janda dan duda baru. Bahkan, angka itu bisa lebih dari yang dimaksudkan.

Menurut pengacara sekaligus pemilik distro You And Me dan kuliner Q Pizza ini, tingginya angka perceraian disebabkan banyak faktor. Salah satu diantaranya si perempuan minta cerai lantaran ditinggal suami terlalu lama. Kini penyebab utama permasalahan keluarga berawal dari media sosial (medsos).

Pengusaha muda yang sukses, sekaligus penyuka klenik, supranatural, dan mistik ini mengatakan bahwa pada tahun lalu, perceraian yang disebabkan faktor ekonomi mencapai 318 kasus. Sedangkan 676 kasus disebabkan tidak adanya keharmonisan. Penyebab lain, 318 kasus karena tidak adanya tanggungjawab suami dalam rumah tangga.

Salah satunya dilatarbelakangi ketidakharmonisan dalam membina rumah tangga. Pemicu yang paling sering karena media sosial. Masih banyak faktor lain yang mengakibatkan perceraian, ucap Yohanes Chandra Ekajaya kemarin.

Dok. Yohanes Chandra Ekajaya

Pria yang akrab disapa Ki Sambarlangit ini juga menjelaskan bahwa hubungan terlarang sangat mudah terjalin melalui saluran dunia maya. Kecemburuan salah seorang pihak keluarga bisa memicu keinginan untuk memecah keutuhan mahligai rumah tangga. Perkembangan teknologi rupanya juga berimbas pada biduk rumah tangga.

Teknologi terus berkembang. Seperti halnya HP. Sifatnya alat komunikasi pribadi yang tidak bisa diawasi terus-menerus. Sehingga sering muncul kecurigaan antar kedua pihak. Apalagi diberi password yang rumit, paparnya.

Tingginya kasus perceraian juga disebabkan ketidakmatangan usia perkawinan. Karena itu, kesiapan untuk membina keluarga harus menjadi perhatian keluarga. Komitmen untuk bersanding harus dimusyawarahkan sebelum mengikat ijab kabul.

Dalam kasus yang ditangani selama ini disebutkan, usia termohon dan pemohon penceraian tergolong muda. Pihak pria rata-rata masih berumur 25-30 tahun. Sedangkan pihak perempuan berada di kisaran umur 20-25.

Di Undang-Undang 1/1974 tentang Perkawinan sudah jelas mengatur ini. Umur minimal calon mempelai perempuan 16 tahun. Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah berumur 19 tahun. “Di bawah itu masuk kategori nikah dini,” ujarnya.

Yohanes Chandra Ekajaya menjelaskan, perkawinan itu tidak seperti pacaran. Kedua pihak benar-benar harus matang. Kalau pacaran, ada sedikit masalah saja dikit-dikit putus. Namun, tidak demikian kalau nikah.

Pengacara yang sempat gagal akademik ini mengungkapkan bahwa tidak semua pasangan yang mengajukan perceraian dari golongan masyarakat awam. Masyarakat harus cerdas menggunakan medsos. Beri penjelasan kepada pasangan jika hendak berkomunikasi dengan lawan jenis.

“Komunikasi dengan pasangan harus dipererat. Kita harus memberi tahu dengan siapa kita berkomunikasi agar tidak muncul kecurigaan,” tegasnya.