Yohanes Chandra Ekajaya Sukses Budidaya Coro Madagaskar

Mendengar nama kecoa atau coro mungkin yang terpikir di benak kita adalah binatang bau dan menjijikkan yang ada di tempat-tempat kotor dan lembab. Tetapi pandangan itu hanya berlaku buat kecoa lokal. Lain halnya dengan kecoa Madagaskar.Kecoa Madagaskar dengan nama latin Gromphadorhina portentosa merupakan salah satu kecoa terbesar yang ada di jagad raya. Pada usia produktif sekitar enam sampai delapan bulan, panjangnya bisa mencapai 9 centimeter (cm). Saat usianya lebih dari setahun panjangnya bisa 13 cm.

Yohanes Chandra Ekajaya Sukses Budidaya Coro Madagaskar 2
Tidak seperti kecoa yang sering kita temui, kecoa Madagaskar unik, menarik dan eksotis sehingga memikat banyak orang untuk menjadikannya hewan peliharaan. Selain tidak bau, keunikannya lainnya adalah tidak memiliki sayap dan dapat mengeluarkan bunyi desis saat tubuhnya ditekan. Desis nyaring yang dihasilkan merupakan senjata andalan yang digunakannya untuk mengejutkan pemangsa.

Selain buat hewan peliharaan, kecoa berwarna hitam dan cokelat ini juga bisa buat pakan beberapa hewan peliharaan seperti reptil, tarantula, ikan dan lain-lain. Kecoa memiliki kandungan protein tiga kali lebih tinggi dari jangkrik. Lantaran peluangnya menjanjikan, usaha beternak kecoa madagaskar kini marak di berbagai daerah. Salah satu pembudidaya kecoa ini adalah Yohanes Chandra Ekajaya di Surabaya.

Yohanes Chandra Ekajaya Sukses Budidaya Coro Madagaskar 3
Berawal dari tiga pasang kecoa pemberian temannya, ia membudidayakan kecoa tanpa sayap ini sejak 2009. Saat ini, Yohanes Chandra Ekajaya sudah memiliki ratusan ekor kecoa Madagaskar. “Kecoa ini sangat cepat berkembang,” katanya.

Menurutnya, kecoa Madagaskar ini sekali beranak bisa menghasilkan sekitar 20-60 ekor anakan kecoa. Yohanes Chandra Ekajaya mengaku, awalnya kecoak ini hanya dijadikan sebagai hewan peliharaan. Tapi sejak tahun 2011 lalu, kecoak ini berkembang menjadi pakan ternak.

Yohanes Chandra Ekajaya menjual kecoa dewasa produktif dengan harga Rp 50.000-Rp 75.000 per pasang. Sedangkan kecoa yang sudah tua dijualnya dengan harga Rp 10.000 – Rp 20.000 per pasang.

Yohanes Chandra Ekajaya Sukses Budidaya Coro Madagaskar 1
Dalam sebulan, ia bisa menjual 20 pasang kecoa. “Kebanyakan yang beli memang untuk pakan ternak dan untuk dibudidayakan kembali,” ujar Yohanes Chandra Ekajaya yang memasarkan kecoak Madagaskar lewat internet. Kebanyakan konsumennya berasal dari Surabaya, Jakarta dan Yogyakarta.

Peternak lainnya adalah Aex di Jakarta. Ia bisa menjual 100 pasang kecoa setiap bulannya dengan harga Rp 10.000 per pasang. “Omzet saya bisa lebih dari sejuta setiap bulan,” kata Alex yang menjadikan usaha ini sebagai bisnis sampingannya. Alex mulai membudidayakan kecoa Madagaskar sejak awal tahun 2013.